Read more: http://dapur-tutorial.blogspot.com/2012/03/cara-memasang-meta-tag-pada-blog.html#ixzz1pltGeQ00

Kamis, 15 Desember 2011

Kekasihku Pergi Saat Berjihad (Kisah Nyata Istri Pegawai Pajak)

Kekasihku Pergi Saat Berjihad (Kisah Nyata Istri Pegawai Pajak)

Kekasihku Pergi Saat Berjihad (Kisah Nyata Istri Pegawai Pajak)
Saya temukan sosok ideal pegawai pajak pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.
Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011, si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance, saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus bangkit menyikapi keadaan ini.
Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena, tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya).
Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu –bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.
Kami melihat kenyataan bahwa saat itu ada pegawai pelaksana yang punya rumah dan mobil mewah. Abang seorang kepala seksi, dan kondisi itu yang membuat Abang sering memberi pengertian pada saya. Sebagai seorang istri pegawai Pajak, saya harus hidup sederhana dengan gaji sebagai PNS. “Jangan pernah terpengaruh dan mempengaruhi suami untuk mendapatkan sesuatu yang tidak halal,” Abang memberi nasihat.
“Apa gaji yang ayah terima ini halal?” kembali ia gusar. “Nafkahilah keluarga ini dengan keringatmu. Bun percaya, Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kami,” jawab saya.
“Kira kira bagaimana jika Ayah keluar saja? Jadi guru ngaji,” tuturnya membulatkan tekad. Matanya berlinang. Saya pun ikut menangis saat itu.
“Ayah, apa gak mau lingkungan Ayah jadi lebih baik? Kalau Ayah mundur sekarang, gak ada perubahan di Pajak. Ayah harus mengubah kebiasaan itu. Pajak memerlukan orang seperti Ayah untuk bisa berubah. Ayah pasti bisa,” tutur saya menyambung percakapan waktu itu.
“Iya yah, Bun,” jawabnya. Kegelisahan itu akhirnya terjawab dengan modernisasi dan reformasi birokrasi DJP. Pada 2006, sampailah juga gelombang kantor modern di Jawa Tengah –waktu itu Abang dinas di Pekalongan.
Abang orang yang sangat sabar, tenang, tak banyak bicara. Malah terkadang tanpa ekspresi. Namun dalam diamnya, saya tahu ia tak diam. Selama kami bersama, belum pernah ia marah sekalipun. Ia laki-laki yang hangat dan update –selalu tahu semua hal. Diajak segala macam diskusi, pasti langsung nyambung apapun topiknya, apalagi soal agama. Keseimbangan itu yang kami teladani di rumah. Ia orang yang ngocol, kadang jail dan sangat romantis. Dengan gitar kesayangan, ia sering bernyanyi bersama anak-anak dengan kekonyolannya, melucu sampai tertawa terbahak-bahak. Itu semua momen yang kami rindukan.
Salah satu lagu pengantar tidur anak-anak yang sering dinyanyikan, “Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian,melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh, ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati…”
Loyalitas dan dedikasinya yang tinggi tak diragukan. Saya acungi jempol. Saya ingat, saat itu saya sedang hamil enam bulan anak pertama. Tatkala terkena pengristalan batu ginjal, ia masih bekerja larut hingga hampir pingsan di sebuah klinik di Pekalongan. Opname yang dianjurkan dokter tak dihiraukannya. Saat itu hari-hari akhir penerimaan SPT wajib pajak. Operasi “tembak” adalah solusi yang kami pilih karena bisa lebih cepat pulih dan tidak usah dilakukan pembedahan. Saran dokter, opname selama dua minggu. Namun, bedrest hanya bertahan tiga hari. Kala itu belum ada mesin absen fingerprint. Masih serba manual dengan tanda tangan. “Titip absen saja, kenapa?” saya saking kesalnya memberi saran. “Lagi sakit kok mikirin kerjaan, gimana bisa orang sakit kerjanya maksimal?”
Abang hanya tersenyum mendengar kekesalan saya. Alhasil, dengan keadaan yang masih lemas, ia tetap kerja. “Sakit itu ujian dari Allah. Harus kita nikmati,dan jangan mengeluh,” jawabnya simpel.
Tiga tahun tugas di Pekalongan dilalui dengan baik. Lalu, Abang mutasi ke Palembang. Satu sisi lebih jauh dengan kami. Tapi di sisi lain, lebih dekat dengan kampung halamannya. Alhamdulillah, Agustus 2010, kami didekatkan. Abang mutasi di Kantor Pelayanan Pajak BUMN, kantor pajak dengan penerimaan terbesar, yang perlu effort lebih tentunya. Saya hanya bisa berdoa agar setiap langkah yang Abang ambil adalah yang terbaik. Saya dan Ibunda tercinta –mertua saya–
mengkhawatirkannya. Semoga ia selalu sehat dan jauh dari “godaan”. Setiap minggu Ibunda selalu mengingatkan, “Mael, hati-hati dalam setiap memutuskan sesuatu. Jadilah orang yang jujur dan jangan sampai tergoda dengan duniawi ya.”
“Kenapa suamimu gak minta pindah di Bandung saja? Kan bisa lewat Si Anu. Yah, minimal setor satu Kijang lah,” salah satu teman saya yang suaminya juga di Pajak mengipas-kipasi. Saya tak tahu maksud ucapannya, apakah ia bercanda atau serius.
Dan seperti biasanya, ia hanya tersenyum saat saya ceritakan hal itu. “Sudah, gak usah dipikir. Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita. Yah kita berdoa saja. Sekarang Pajak sudah modern udah gak perlu kayak gitu lagi kok. Yang penting kerja kita bagus. Apapun yang kita lakukan karena Allah. Malah jadi ibadah kan?”
Ketika kasus Gayus terekspos, tentu ini mengecewakan banyak pihak yang telah bekerja keras. Di satu sisi justru suami saya senang. “Pada akhirnya, biarlah yang benar yang akan menang,” tuturnya. Di sisi lain, kita harus membuktikan bahwa tidak semua orang Pajak seperti Gayus. “Orang Pajak sekarang beda dengan yang dulu. Sudah modern, sudah tidak ada lagi ‘kebiasaan’ Itu,” tuturnya yakin. Secara tidak langsung saya pun ikut menjadi “jubir” bagi teman-teman di lingkungan saya.
Kebiasaan Abang yang lain adalah ingin perfeksionis. Ia ingin segala hal sempurna, rapi, dan sangat teliti. Tak mau meninggalkan cela pada pekerjaannya. Contoh kecil saja, saya kalah bila harus menyetrika bajunya. Tanpa menyakiti hati saya, ia bilang lebih puas dengan hasil setrika sendiri.
Februari 2011, Abang mengemban amanat, jadi satu anggota tim yang menyusun sebuah buku coaching di Kantor Pusat. Ia siap mengutarakan sejumlah gagasan untuk penyempurnaan program itu. Sayang, dalam perjalanan menuju medan tugas itu, Abang menyongsong takdirnya. Satu titik dalam sebuah periode yang mengubah total kehidupan saya dan anak-anak.
* * *
Dua kali kami tertunda berangkat haji. Pada akhir 2008, kami sudah siap. Namun, Abang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang tugas dari Palembang menuju Jambi. Tabungan kami untuk Ongkos Naik Haji pun akhirnya terpakai untuk biaya mengganti mobil dinas Livina yang ringsek. Abang tak mau memanfaatkan fasilitas asuransi kendaraan kantor. Dia memilih bertanggung jawab sendiri. Uang bisa dicari, mungkin Allah belum berkehendak. Yang penting Abang selamat. Tahun 2009 pun kami lewatkan. Maklum, masih belum cukup biaya untuk melunasi. Hingga akhirnya, 2010, saya mantap naik haji. Berapapun biayanya. Apapun kendalanya. Saya berdoa, “Mudahkan ya Allah, kami ingin beribadah.”Alhamdulillah, ada jalan walaupun kami harus memanfaatkan pinjaman kantor saya. Itupun Abang masih ragu, “Bunda, apakah ini hak kita?” tanya Abang. Padahal, dengan gajinya sekarang, mungkin Abang bisa saja langsung melunasi ONH. Namun tidak demikian. Abang masih bersikeras dengan alasannya. Alhamdulillah akhirnya saya dapat memantapkan hati Abang. Dengan izin-Nya, kami bisa melunasi ONH dari hasil tabungan gaji pokok PNS, bonus, dan sedikit tambahan pinjaman. November, tiga bulan sebelum kehilangannya, berangkatlah kami berdua.
Sepertinya Allah sudah menyusun rencana dengan sangat indah. Empat puluh hari saya bersamanya di tanah suci adalah waktu yang sangat indah dan tak dapat saya lupakan. Selama kami berumah tangga dari awal menikah, kami belum bisa kumpul bersama. Saat itulah saya merasakan indahnya kebersamaan yang tak ingin terpisahkan. Sempurna rasanya sebagai istri yang bisa melayani dan mengurus suami. Begitupun Abang. Ia menunjukka keceriaan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Abang adalah tipe orang yang sangat perhatian dan romantis. Satu kali kami hendak salat dan saya berdiri di samping belakangnya. “Bunda salatlah di saf (barisan) perempuan.” “Tapi, Ayah… Bunda sendirian.” kebetulan saat itu suasana padat sekali di Masjidil Haram. Saya sempat mengelak.
“Berjihadlah, ayah bertanggung jawab mendidik Bunda dan anak-anak.” Sedih rasanya mendengar jawaban itu. “Bunda harus terbiasa sendiri,” sambung Abang.
“Kenapa, Yah?”
“Karena kita lahir sendiri. Mati pun sendiri.”
“Jangan bilang gitu yah. Anak-anak masih kecil.”
“Ada Allah yang menjaga anak-anak,” Senyumnya membuat hati saya merasa tenang dan yakin. Ternyata ini pesantren yang Allah berikan lewat ilmu agama yang baik dari Abang. Saya dapat pengetahuan banyak.Terima kasih ya Rabb, Kau telah memberikan kesempatan untuk kami dapat beribadah bersama. Sungguh, momen itu tak mungkin bisa terlupakan. Banyak nikmat yang kami terima sampai kami tiba ke tanah air dengan selamat. Hadiah terindah dari Tanah Suci, saya positif hamil.
Beberapa peristiwa merupakan pertanda yang tak saya sadari. Tanggal 9 Februari 2011, dua pekan sebelum hari celaka itu, kami nonton teve bareng. Ada berita tentang selebritis yang jadi politisi kehilangan suaminya –yang juga artis cum anggota Dewan. Sang istri menangis mengelus-elus nisan suami. “Kalau Bunda seperti itu gimana, ya Yah? Anak-anak masih kecil…” spontan saya nyeletuk dengan maksud bercanda.
Entah kenapa rasa humor yang seperti biasanya, hilang tergantikan dengan tausyiah. “Itu yang tidak boleh,” tuturnya tenang, “menangis, meratapi di pusara tidak baik. Yang diperlukan orang yang telah meninggal adalah doa dari yang masih hidup, bukan bunga yang wangi atau nisan yang indah. Saat Nabi Muhammad ditinggal istri tercinta Khadijah pun beliau merasakan kehilangan dan hanya berkabung tiga hari. Boleh menangis, asal jangan meratap.”
“Hidup di dunia hanya sementara, justru hidup setelahnya yang akan kekal. Perbanyaklah bekal untuk di akhirat. Tiada daya upaya manusia untuk mencegah bila Allah telah berkehendak untuk mengambil nyawa manusia. Jangan takut, Allah lebih dekat dari urat nadi kita. Banyak baca buku tentang agama, yah Bun. Biar tambah banyak ilmunya.”
Dengan senyuman khas yang menenangkan, Abang tak pernah seperti sedang mengajari bila ia sedang berbagi ilmu. Abang berujar, “Tolong jaga anak-anak. Didik agamanya dengan baik. Istikamahlah karena bila agamanya kuat dan takut kepada Allah, dia bisa menghadapi dunia dengan ilmu. Bukan dengan harta dan ingat Allah selalu tahu apa yang kita perbuat.”
* * *
Semenjak pulang ziarah, Abang memperlakukan saya begitu istimewa. Mungkin karena saya sedang hamil. Saya begitu dimanjanya. Hingga Minggu malam itu (20/2)… Kehamilan dua anak sebelumnya, Abang tak pernah menuruti keinginan saya, sekalipun merajuk jika meminta sesuatu. Tapi malam itu… “Kita makan di luar yuk. Bunda pasti pengen apa deh. Kan lagi hamil muda. Ayo lagi kepengen apa?” ujarnya setengah memaksa untuk pergi. Akhirnya kami pergi makan di sebuah resto ikan bakar favoritnya. Karena lama tugas di Makassar, kuliner ikan wajib sebulan sekali buat kami. Abang memesan menu lebih banyak dari biasanya. Alasannya, bisa dibungkus untuk sahur. Alhamdulillah, Senin-Kamis tak pernah terlewatkan untuk puasa sunah. Apa ini yang disebut pertanda? Hendak berangkat ke resto, kami mendapati ban mobil kempes. “Bersyukur, Bunda. Kita keluar rumah nih. Ban kempes, kalo ketahuannya besok pagi, bisa-bisa Ayah kesiangan rapat di Kantor Pusat. Ayah yang menyiapkan ide, masak terlambat? Gak enak dong.”Lagi lagi dengan senyumanya.
Tengah malam, Kayyisah panas dan muntah. Rewel sekali. “Dede (panggilan Kayyisah) pengen tidur sama Ayah aja…. Pengen dipeluk Ayah… aku sayang Ayah. Ayah gak boleh kerja,” rengeknya. Abang pun membuka baju, dan memeluk Dede. Dan Alhamdulillah panasnya reda. Dede pun terlelap.
Pukul setengah tiga dini hari, kami bangun salat tahajud. Biasanya, kami selalu berjamaah. Setelah berdoa, kami berpelukan, saling meminta maaf. Ritual itu tak pernah absen kami lakukan sehabis salat. Tapi kali ini Abang minta salat sendirian. “Kita pisah yah. Ayah mau memperbanyak salat tahajudnya.”
“Kenapa?” pertanyaan itu mestinya saya ungkapkan. Tapi tertahan di hati saja.
Ikan bakar yang seharusnya jadi menu sahur tak Abang sentuh. Malah, Abang meminta buah. “Bun, tahu gak buah-buahan itu makanan di surga. Jadi Ayah cukup sahur dengan apel aja.” Saya tak bertanya, dua minggu terakhir ini Abang bertausyiah tentang kematian terus. Keanehan yang lain, Abang menitipkan Dede sama Mbak (pengasuh anak kami) berulang-ulang.
“Tak seperti biasanya, Bapak nyuruh jagain Dede berulang gitu. Kok kaya mau kemana aja,” ujar Mbak kepada saya. Jam 03.30 pagi. Saya dan Dafi mengantarnya hingga ke pool travel Xtrans di Metro Trade Center. Keanehan yang lain terjadi lagi. Abang tak mau memandang saya. Seperti orang yang sangat sedih mau pergi. “Ayah mau salat di mobil saja. Bun, hati-hati ya. Titip anak-anak,” itu kalimat terakhirnya. Biasanya Abang minta berhenti di rest area guna salat subuh.
Tepat pukul 04.30. Ring tone hape yang sengaja saya bedakan berbunyi. Abang menelepon saya. Sayang, tak sempat saya angkat karena rasa kantuk. Kami begadang karena Dede rewel semalaman. Seandainya saja saya bisa angkat telepon itu, mungkin saya bisa mendengar suaranya yang terakhir kali…
Pukul 04:35. Menurut catatan kronologis Jasa Marga, peristiwa di Tol Cipularang Jalur B Km 100 itu terjadi. Tabrakan karambol yang melibatkan satu truk, minibus travel, dan sebuah mobil, menewaskan tiga orang. Semuanya penumpang travel. Abang meninggalkan kami dalam keadaan puasa. Dan mungkin tengah mendirikan salat subuh. Dalam perjalanan memenuhi tugas.
Di mata saya, Abang wafat dalam jihad. Wallahualam –Tuhan yang punya ketentuan.
Allah punya kehendak lain. Allah lebih mencintai Abang daripada kami. Dia lebih berhak atas Abang daripada kami. Ajal, jodoh, dan rejeki hanya Allah yang tahu kapan dan di mana. Takkan pernah ada yang bisa menghalangi atau pun tertukar. Bila Allah telah berkehendak, tak ada yang mampu menahannya. Allah memberi kesempatan untuk saya agar lebih dekat dan banyak beribadah lagi. Insyaallah ini menjadi ladang ibadah.
Menyangkut kejadian ini, jangan ditanya rasa sedih. Yang saya rasakan hingga saat ini, air mata sepertinya tak bisa kompromi, seakan mendesak keluar, jika mengingatnya. Namun, saya ingat pesan almarhum. Saya tak boleh larut dipermainkan pikiran “seandainya-seandainya”. Itu semua sudah kehendak-Nya. Tak kurang dan tak lebih. Sudah begitu adanya. Hanya doa saya dan anakanak yang bisa kami berikan untuk kekasih kami… Ismail Najib.
Belakangan saya mengetahui bahwa di perjalanan, Abang sempat berkirim posting pada sebuah
grup teman kerja di Blackberry. Itu posting terakhirnya.
* * Feb 21 Mon 04:04 * *
Najib:
Dengar suara adzan selalu tdk dihiraukan atau nanti sajalah
Tp dengar suara HP woow .!! :p
Lgsung segera diambil,
Astgfirullahal’adzm. . : (
Baca Al-qur’an
Seperti orang mengeja
Tapi kalo baca bbm Buseett lancarnya,.:$
Astagfirullahal’adzm. .
Beli pulsa siapa takut !
tp kalo sedekah katanya kantong lg sekarat
Astagfirullahal’adzm. .
Pegang tasbih 1x dlm sethun
tp pegang HP dibawa selalu, walau tidur sekalipun.
Astagfirullahal’adzm. .
sama2 Insyaf yuuukk.!!! :p
Ada baiknya bbm ini disebarkan, mumpung grtisan, dan qm
pun mendapat pahala karna
saling mengingtkan sesama
* * *
Sabtu (19/2), dua hari sebelum kejadian, kami kontrol kandungan. Usia kandungan menginjak bulan keempat. Keinginan Abang untuk dikaruniai anak kembar putri membuat dokter Sofi geli dibuatnya. Tak seperti biasanya, dia ngebet ingin tahu apa jenis kelaminnya. “Perempuan atau laki-laki, Dok? Satu apa kembar Dok?”
“Bapak mau ke mana sih? Kayak mau pergi jauh aja. Banyak banget nanyanya. Masih empat bulan nih…”kata Dokter bercanda. “Pengen tahu, apakah doa saya makbul atau gak.” Setelah cek, diketahui calon anak kami rupanya perempuan. Tapi, “bukan kembar,” tutur Dokter. “Gak apa-apa. Tahun depan bikin lagi yah Bun,” jawabnya sambil melirik saya.
“Enak aja,” sahut saya bercanda. Rasa gembiranya tak bisa ditutupi. “Ayah makin semangat kerja nih,” ujarnya, masih dengan senyuman mautnya.
Sebulan kemudian, saya kembali kontrol. Kali ini… sendirian. Juga untuk lima bulan ke depan hingga melahirkan. Dan bertekad membesarkan anak anak saya sendiri. Ini masa yang sulit untuk saya bisa melaluinya. Kesedihan selalu saya tutupi. Dalam keadaan hamil besar sendiri tanpa suami. Betapa sesak rasanya, ujian ini begitu berat pikir saya. Terpuruknya saya seperti hilang separuh nyawa. Tapi rasa sayang pada Almarhum membuat saya bertekad harus bisa dan kuat!
Satu lagi yang membuat saya bangga, Abang tak pernah absen salat berjamaah di masjid. Sampaisampai di kompleks masjid kami, Al-Hasan, Abang disebut “Pak Ustad”. Para jamaah sudah tahu kebiasaan Abang : paling lama berdoa setelah salat.
* * *
Bagaimana caranya? Apa saya sanggup membesarkan tiga orang anak ini? Menjaga dan mendidik mereka seperti wasiat Almarhum? Dan ternyata, perkataan Abang benar, “Allah yang menjaga.” Ini yang membuat kami bangkit menjalani kehidupan selanjutnya. Saya bersyukur, Abang mengajarkan “ilmu ikhlas”. Masih banyak ilmu yang diberikannya yang baru saya mengerti sekarang sepeninggal Almarhum . Ternyata keikhlasan berbalas pertolongan dari arah yang tak disangka.
Saya sempat down sewaktu mengurus segala sesuatu terkait hak suami saya. Sangat ribet. Banyak dokumen yang perlu dilengkapi. Proses di Kelurahan dan instansi lain cukup berbelit. Saya dihadapkan pada birokrasi yang sangat panjang tanpa kejelasan prosedur. Namun rupanya banyak uluran tangan yang membantu. Allah memberikan jalan kemudahan bila kita berpasrah dan ikhtiar. Saya bersyukur karena masih bisa bekerja. Kini, sayalah yang harus mencari nafkah demi anak-anak. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dengan keadaan istri yang sama dengan saya dan tidak bekerja?
Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman seangkatan Abang (Mas Pank dan Mbak Tri).
Teman sepaguyuban telah banyak membantu dan memberikan support (baca boks “Pak Najib di Mata Mereka” –peny). “Apakah saya berhak menerima ini? Jika memang berhak, Alhamdulillah,” saya bertanya kepada Mas Iwan, perwakilan teman seangkatan Abang, yang menyerahkan santunan. Biaya sekolah Dafi juga terbantu berkat mereka. Terus terang, saya kaget dan bersyukur, sepertinya saya tak sendiri. Ada keluarga baru yang menemani kami.
Saya juga berterima kasih kepada teman-teman sekantor Abang. Mbak Rini (Ibu Dwi Setyorini, Kasubag Umum –peny) dan tim Waskon mengurus pencairan hak-hak almarhum. Sejak Februari, baru Oktober ini selesai. Pak Joga (Bapak Joga Saksono, Kasi Pengawasan dan Konsultasi –peny), serta Pak Yond Rizal (Kepala Kantor –peny). Kepala Kantor yang telah mengusulkan Abang memperoleh predikat anumerta. Status anumerta menegaskan bahwa Abang mangkat sewaktu menjalankan tugas.
** *
Tak ada yang banyak berubah dari rumah ini. Kecuali tinggi lantai yang terpaksa saya naikkan 50 cm. Maklum, dua tahun terakhir, tiap hujan turun, kompleks kami dilanda banjir. Air masuk hingga semata kaki. Rencana menambah tinggi lantai sempat saya utarakan. Itu pun saya lakukan karena masa kelahiran si bungsu kian dekat. Kasihan si kecil. Namun pesan mendiang tetap terngiang, “Bagaimana dengan perasaan para tetangga? Kalau rumah kita tinggi sendiri, bagaimana dengan mereka? Kita jangan egois, Bunda.” Bahkan, untuk mengganti cat dinding yang baru, Abang harus tengok kiri-kanan dulu.
Pernah ada teman nyeletuk, “Gue aja udah punya rumah tiga. Suami lu kan Kasi.rumah dipinggiran ” Mendengar hal itu, nasihat beliau sederhana, “Gak usah ngiri. Kita harus bangga dengan apa yang kita punya.syukuri yang ada, Jangan harap suamimu akan mengambil sesuatu yang lebih dari haknya.” Yah, rumah ini sejak kami beli dan tempati pada akhir 2005, masih harus kami cicil hingga 10 tahun ke depan.
Tak ada yang banyak berubah dari rumah ini. Pigura mungil foto perkawinan kami masih terpajang. Kami memakai sepasang baju dan kebaya biru nyala segar. Dua buah foto kami berdua, saling berpelukan dan tersenyum juga masih ada. Foto keluarga, waktu itu masih dua anak, kami kompak memakai putih-putih, bertengger manis. Ada juga foto Dafi, alangkah gagahnya ia, saat wisuda TK Al-Biruni angkatan 2010-2011. Si sulung juga mempersembahkan piala Juara Kedua Lomba Gerak dan Lagu Geordase TK se-Kecamatan Penyileukan 2011. Di atas meja belajar Dafi dalam kamar, senantiasa berdetak jam dinding warna biru dari KPP Madya Palembang.
Semuanya masih ada pada tempatnya, seperti saat Abang masih bersama kami. Tak ada yang berubah… kau selalu di hati kami. Minggu malam itu, sebelum berangkat menjemput takdirnya, Abang menulis surat di buku Dafi dengan tinta ungu.
SURAT untuk:
Dafi jagoan ayah
Dafi, ayah mau berangkat kerja dulu ya.
Abang jagain bunda sama dede yah.
Abang emam nya yang banyak ya..
jangan lupa minum susu dan sikat gigi
kalau mau bobo.
Belajar yang rajin
jangan lupa belajar solat.
da dah Abang…
peluk sayang
dari ayah
(Ayah Najib)
ttd
Tak akan ada yang berubah dari rumah ini. Kecuali anak -anak yang bertambah besar. Anak-anak tetap ceria. Bermain bersama teman mereka di depan televisi di ruang tengah. Saya tak mau menangis di depan mereka, tiap kali mengingat Abang. Kalau kepergok Dafi, dia mengingatkan, “Bunda nangis ingat Ayah yah? Kata Bu Guru, kalau teringat ayah kita mesti berdoa, Bunda. Ayah sudah di surga, Bunda. Berarti Ayah sudah berkumpul dengan Nabi Muhammad. Kan masih ada Abang (panggilan Dafi), Kaka (panggilan Kayyisah setelah punya adik) dan Dede. Kita berjuang bersama-sama, ya Bun. ” Saya takjub mendengarnya. Anak seusia Dafi sudah bisa bertutur seperti itu.
Satu lagu sering dinyanyikan Almarhum untuk saya. Dan sekarang saya persembahkan untuk beliau: “Takkan Terganti”.
meski waktu datang dan berlalu 
sampai kau tiada bertahan
semua takkan mampu mengubahku
hanyalah kau yang ada di relungku
hanyalah dirimu 
mampu membuatku jatuh dan mencinta
kau bukan hanya sekedar indah
kau tak akan terganti
Delapan bulan sudah berlalu tanpa kehadirannya.Yah, memang tak ada yang banyak berubah dari rumah ini begitupun dengan hati kami, Kami ingin sekadar menganggap Abang sedang berangkat kerja. Hanya, Ayah masih belum kunjung pulang. Selamat jalan Ayah akan kubesarkan dan kudidik anak kita seperti yang kau inginkan,semoga Allah selalu melindungi kami dan Semoga kita dapat berkumpul di surga kelak. Kau akan selalu ada bersama kami Peluk sayang kami yang menyayangimu..
Ummu Dafi – Bandung
Oktober 2011
Dinukil dari Buku Berkah II

Semoga Allah Menjagamu, Selamanya..

Pagi-pagi buka Blog.... Subhanallah mendapatkan sebuah artikel yang sangat mengharukan... aku persembahkan untuk Umiku khususny dan para ibu-ibu semua...
“Bu, apa kabar? Semoga iman selalu tertanam di dalam dadamu. Semoga Islam selalu menjadi pegangan hidupmu, hingga Izrail menjemputmu. Semoga taqwa senantiasa mengiringi hari-harimu. Semoga ihsan senantiasa menemanimu, dimana dan kapanpun kau berada.”
“Bu, apakah kau sudah makan pagi ini? Menu apakah yang kau masak dan sediakan untuk dirimu dan adik-adikku? Ah, jika bicara makanan, aku pasti ingat akan dirimu. Karena kau adalah koki paling hebat di dunia ini. Sekalipun hanya bayam, bawang merah, bawang putih dan cabe, namun kau bisa menyulapnya menjadi makanan yang penuh cinta, full kasih, sarat sayang. Sehingga aromanya adalah nikmat, rasanyapun mantab. Tak ayal, sederhana yang nampak luar biasa. Dan kini, aku sungguh merindukan luar biasanya masakanmu itu.”
“Bu, apakah kau sudah sholat ?”
Kawan, aku malu jika menanyakan ini pada ibuku. Dulu, ketika aku masih kecil, beliaulah yang cerewet mengajakku untuk sholat. Dengan segala macam kesibukan yang beliau emban, beliau sempatkan mencariku yang tengah asyik dengan duniaku. Dengan cinta beliau menyapaku, “Mas, sudah sholat belum?” Beliau memanggil aku dengan bahasa cintanya, ”Mas”. Dan kini, aku bukan ingin mengguruinya dengan menanyakan sholatnya. Bukan itu, aku hanya ingin mengingatkannya. Karena aku tidak mau kita berbeda tempat di akhirat kelak. Inginku sederhana Bu, kita bersama menghuni surgaNya, Amin.. ya Rabb.
Bahkan beliau tak pernah menyerah untuk menanyai sholatku, padahal hampir setiap ditanya, bukan jawaban yang kuberikan, melainkan mirip bantahan, ”Ngapain nanya-nanya sholat segala?”, ucapku kesal. “Gak lihat sedang asyik main sama teman apa?” lanjutku kesal. Astaghfirullah.. Maafkan aku Bu, semoga Allah mengampuni semua khilafku padamu.
“Bu, Ibu sudah mandi?” Ingin sekali aku dimandikanmu, seperti dulu ketika aku kecil. Mandi bersamamu dengan air sayang, dicampur kehangatan kasih. Membersihkan setiap kotoran yang melekat ketika diri memang belum berdaya apa–apa. Pun, ketika diri ini sudah bisa berlari dan bermain, kau masih sering dimandikan olehmu. Tanganmu lembut sekali, belaianmu benar-benar menguatkanku.  Dengan sabar kau lakukan peran itu. Menggosok pelan tubuhku, membersihkannya dengan sepenuh jiwa, seperti kau memandikan dirimu sendiri. Bahkan, kau lebih bersih, lebih teliti dalam memandikanku, daripada ketika kau bersihkan dirimu sendiri. Dengan segenap batas, ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk kasihmu yang tiada terbalas.
“Bu, Ibu sedang apa sekarang ?”. Mudah-mudahan Allah melapangkan semua aktivitas kebaikanmu. Semoga Allah mencegahmu dari berbuat keburukan, sekecil apapun. Semoga, Allah menjadikan setiap lakumu adalah keberkahan, sehingga bisa mengantarkanmu dan kami (anak-anakmu) ke surgaNya kelak, Amiin. Jangan lupa ya Bu, iringi setiap langkah dengan dzikir, dengan munajat panjang untuk kami, anak-anakmu. Karena Allah tidak akan menolak doa kebaikan dari seorang Ibu kepada anaknya. Untuk yang kesekian kalinya, ijinkan aku mengucapkan, ”Jazakillah ahsanal jaza’ atas semua yang kau berikan kepada kami, termasuk doa-doa panjangmu, yang tak pernah putus demi kebaikan kami, anakmu”
Bu, aku tersinggung ketika kau bertanya demikian, ”Mas, nanti kalau Ibu sudah tua gimana? Ibu khawatir jika kalian akan meninggalkan Ibu sendirian.”   Hatimu sungguh halus, selembut sutra bahkan lebih lembut lagi. Jangan khawatir Bu, Allah pasti memudahkanku untuk merawatmu, sebagaimana kau merawatku dulu. Akan kuajak kau serumah denganku, dengan istriku, juga dengan cucu-cucumu nanti. Insya Allah, Allah pasti akan memudahkan terwujudnya niat baikku itu. Tak perlu kau risau, tak perlu kau ragu. Aku sudah berkomitmen untuk tidak menjadi seperti Malin Kundang yang durhaka pada ibunya. Aku hanya ingin seperti para sahabat Nabi yang membaktikan hidupnya untuk oran tua mereka. Karena kebaktian kepadamu, karena kedekatan hati denganmu, adalah sumber keberkahan di dunia ini, juga dia khirat kelak. Tentunya, selama kau tidak menyuruhku untuk melanggar aturan-aturan Allah.
“Bu, aku rindu padamu, sangat rindu sekali.” Walaupun kutahu, rinduku hanyalah seujung kuku jika dibanding dengan rindumu yang sepanjang masa. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Aku rindu senyummu. Aku rindu teduhnya wajamu. Aku rindu belaian tanganmu. Aku rindu pijitan cintamu. Aku rindu dekapanmu. Aku, rindu gurauanmu. Aku rindu kemanjaan di waktu tuamu. Aku rindu masakanmu. Aku rindu omelanmu. Aku, aku, aku, merindukan semua tentangmu. Karenamulah, aku belajar rindu. Semoga rindu ini akan berakhir di tempat terindah yang Allah sediakan kelak di surgaNya. Untuk anak dan orang tua yang saling merindukan Surga, pertemuan sejati dengan Allah. Aamiin ya Rabb.
“Bu, jikapun kami jauh dari fisikmu. Yakinlah! Bahwa diriku tengah mencoba mendekatkanmu dalam setiap jenak kehidupan. Dalam setiap doa bahkan desah nafasku. Dalam setiap langkah, aku akan selalu menyertakanmu. Karena Rasul pernah bersabda, Ridho Allah tergantung kepada Ridho orang tua. Murka Allah tergantung kepada murka orang tua. Maka dari itu, Ridhoilah anakmu ini agar Allah tidak memurkai diri yang banyak salah ini.”
“Bu, usiamu semakin senja. Namun, sedikitpun tak kujumpai kelelalahan dalam dirimu. Senyummu tambah merekah, tawamu tambah renyah, bincangmupun semakin sarat makna. Aku tak tahu, terbuat dari apakah dirimu, sehingga begitu tegarnya dalam mengahadapai karang kehidupan yang seringkali mengahantammu sesukanya. Ah, lagi-lagi aku lupa! Bahwa kau adalah manusia terbaik di dunia ini setelah Rasulullah. Bukankah Allah pernah berpesan bahwa Ibu berbanding tiga kali dengan Ayah? Maka, di senjanya usiamu yang kian bergairah, ijinkan kami untuk berbakti, sekali lagi, walaupun apa dadanya.”
“Bu, kini, aku tengah dewasa, sudah saatnya aku mencari menantu yang akan menjadikanmu sebagai Ibu. Aku akan taat dengan pilihanmu. Aku akan dengan senang hati menjadikan pilihanmu sebagai belahan jiwaku. Sebagaimana kau telah menjadikanku sebagai belahan hatimu. Oleh karena itu, kumohon, carikan aku wanita sholihah yang kelak bisa membantuku untuk mencintai Allah, Rasulullah juga mencintaimu setulus jiwa. Jika pilihanmu adalah seperti petunjuk Rasulullah, yang bagus gamanya. Maka, tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Aku akan menikahi pilihanmu itu. Namun, jika tak ada pilihan yang kau berikan, maka ijinkan aku untuk memilihnya sendiri, tentunya dengan persetujuanmu.”
Bu, jangan berhenti melantunkan doa cinta untuk kami. Agar kami bisa menggapai mimpi kami. Mimpi untuk membuatmu tersenyum di dunia ini juga dia akhirat kelak.
Ah, aku lupa!!
Kawan, apakah Ibumu sudah bertemu Allah?
Jika ‘Iya,’ maka belum terlambat. Masih ada waktu untuk berbakti padanya. Doakan dengan doa terkhusyu’ yang kau punya. Agar Allah mengumpulkanmu dan Ibumu di surgaNya. Lakukan pula sedekah, lalu hibahkan pahala untuknya. Karena Nabi mengajarkan hal itu. Lakukan pula haji dan niatkan untuk menghajikan Ibumu jika ternyata beliau belum sempat bertamu ke bumi Allah di Makkah. Lakukan pula amal sholih, terus menerus, agar beliau tersenyum melihat kegigihanmu di dunia ini. Jika Ibuku yang masih hidup saja sangat kurindukan, padahal bisa kutemui sewaktu-waktu, maka aku tidak bisa membayangkan betapa rindunya dirimu kepada Ibumu yang telah berada di negeri  yang sangat susah untuk sekedar kau temui atau untuk kau kecup keningnya. Tapi, yakinlah kawan! Bahwa kau akan menemuinya kelak di Surga. Amin.. Ya, Rabb.
Terakhir, untuk para calon Ibu, “Jadilah Ibu yang melahirkan pahlawan bagi agama Allah. Karena tidak ada balasan bagi para mujahid selain menang atau surga. Jangan biarkan dirimu dipersunting oleh orang yang tidak mau tahu tentang AgamaNya. Namun relakan dirimu, ketika ada orang yang dengan tulus akan mengajakmu meniti jalan cinta para pejuang, jalan cinta yang akan mengantarkanmu, pasanganmu dan keluargamu ke Surga yang sangat indah.”
Untuk para ibu dan calon ibu di seluruh dunia, kuucap syahdu penuh rindu, “Semoga Allah memudahkanmu untuk mendidik para Mujahid di jalan Allah. Semoga  Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepadamu. Semoga Allah melindungimu, selamanya. Aku, mencintaimu karena Allah..”
 http://www.fimadani.com/semoga-allah-menjagamu-selamanya/


Motivasi Terbaru - Seri Herbalis dalam Berbisnis

Motivasi Terbaru - Seri Herbalis dalam Berbisnis
1. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami AKAR adalah modal. Maka jangan pernah mengganggu akar jika tidak ingin pohon kita mati. Semakin kuat akar maka pohon mampu menjulang tinggi! & jangan khawatir, tidak ada akar yang langsung besar melainkan ia akan tumbuh selama kita komitmen menjaganya.

2. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BATANG adalah IKHTIAR kita. Bila ingin bisnis kita tidak mudah rusak ditumbangkan angin ujian maka perBESAR & perBANYAKlah hari-hari kita dengan mujahadah dalam berikhtiar. Yg mudah merasa cukup dalam berikhtiar dialah yg mudah roboh bisnisnya.


3. Herbalis mmandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BATANG adalah kerjaKERAS sedang DAHAN RANTING adalah kerjaCERDAS. Takkan bisa pohon hanya batangnya saja sebab buah nya terletak pada dahan ranting nya & takkan bisa dahan ranting kecuali bertumpu pada batang besarnya. Kerjakan ke-2nya.

4. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami DAUN adalah Doa, Harapan & keikhlasan. Semakin banyak kita panjatkan pd-NYA mengapa kita harus SUKSES maka semakin banyak DAUN yang akan menyerap energi untuk fotosintesis. Jumlah DAUN yang semakin lebat menjadi indikasi sebentar lagi BUAH nya SEGERA kita dapat kan!


5. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BUNGA adalah TANTANGAN dalam berbisnis. Kita tahu tujuan menanam pohon bisnis adalah untuk mendapatkan buah nya. Tetapi kita juga tahu buahnya hanya akan kita dapatkan jika sebelumnya ia berbunga.
Maka HADAPI lah setiap Tantangan bisnis sebab dibalik nya telah menunggu Kesuksesan Bisnis yang telah lama kita harapkan.

6. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BUNGA adalah Tantangannya. Ketika kita memilih pohon tentu yang akan berbuah banyak. Ciri nya adalah ia memiliki Bunga yg sangat banyak. Maka jangan pengecut ketika kau dapati begitu banyak ujian yang mendera mu sebab ia mengantarkan HASIL yang paling optimal!


7. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BUAH adalah HASILnya. Untuk yang ini pasti tidak perlu diajarkan cara menikmatinya :-)
tetapi paling penting pastikn anda bisa berkomitmen hanya memakan BUAH saja & tidak mengganggu AKAR (MODAL) meski baru sedikit buah nya!
ini ujian anda!

8. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami di dalam BUAH ada bagian yang tidak enak untuk dimakan yaitu BIJI. dengan demikian sebenarnya tidak boleh kita menghabiskan seluruh Hasil usaha kita. Harus ada yang disimpan, yang akan kita gunakan untuk memperbesar lagi usaha kita.

9. Herbalis memandang bisnis laksana pohon herba. Pahami BIJI adalah INVESTASI. Pisahkanlah bagian dari buah yang disiapkan untuk menunmbuhkan lagi pohon bisnis kita. Semakin BAIK kita menyisihkannya maka semakin terjaga masa depan kita. & Investasi ini bukan hanya untuk keSUKSESan dunia tetapi juga akhirat kita!

http://elitesteamhpa.blogspot.com/search/label/Daftar%20peserta%20ET-9

Senin, 05 Desember 2011

MEMORY

Memory Slideshow: Bayu’s trip from Yogyakarta, Jawa, Indonesia to Surabaya was created by TripAdvisor. See another Surabaya slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

Minggu, 04 Desember 2011

Posted by Picasa

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW


Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya.





Spoiler:

Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahu ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah *****ik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.


Barang - barang peninggalan beliau Yang masih tersimpan rapi:

Spoiler:

Baju gamis Rasulullah yang telah robek robek (betapa sederhananya baju sang pemimpin dunia yang suci nan agung ..!!)





Spoiler:

Mangkuk tempat minum Rasulullah SAW




Spoiler:

beberapa helai rambut Rasulullah SAW



Spoiler:

Berbagai pedang yang pernah dimiliki Nabi dengan nama-namanya yang digunakan untuk menegakkan ajaran tauhid, ketika orang-orang kafir memerangi Nabi dan dakwahnya sehingga harus mengangkat pedang



Spoiler:

Bendera Nabi muhammad ketika perang


Spoiler:

Salah satu sorban/tutup kepala Rasulullah SAW




Spoiler:

Topi besi Rasulullah SAW



Spoiler:

Sandal-sandal peninggalan Rasulullah SAW tercinta



Spoiler:


Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius




Spoiler:


Surat Nabi SAW kepada Raja Muqauqas, Mesir




Spoiler:

Kotak milik putri tercinta Nabi SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra R.A


Spoiler:


Pintu emas makam Nabi Muhammad SAW


http://forum.vivanews.com/image-only/242911-detik-detik-sakaratul-maut-rasulullah-saw-muslim-only.html

Keutamaan Puasa Asyura

Asyura Dalam Sejarah
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, berkata: “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik. Pada hari ini Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa padanya” Beliau menjawab, “Maka saya lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu beliau berpusa dan memerintahkan agar berpusa padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1865) dalam riwayat Muslim, “Ini hari yang agung, di mana pada hari itu Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’an dan kaumnya.”
Sedangkankan kalimat “Maka Musa berpuasa padanya,” dalam riwayat muslim dengan redaksi lain, “Sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala, maka kami berpuasa padanya.”
Dalam riwayat al-Bukhari, “Dan kami berpuasa padanya untuk mengagungkannya.” Sedangkan dalam riwayat Ahmad dengan tambahan, “Hari itu adalah hari mendaratnya perahu Nuh di atas gukit al-Judiy, maka Nuh 'alaihis salam berpuasa padanya.”
Sedangkan sabda beliau, “Dan memerintahkan berpuasa padanya,” pada riwayat lain dalam shahih al-Bukhari, “Maka beliau bersabda kepada para sahabatnya, ‘Kalian lebih berhak terhadap Musa daripada mereka, maka berpuasalah’.”
Sesungguhnya puasa ‘Asyura sudah dikenal sejak zaman jahiliyah sebelum diutusnya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah berpuasa ‘Asyura.” Menurut al-Qurthubi, boleh jadi bangsa Quraisy menyandarkan puasa ‘Asyura kepada syariat umat sebelumnya seperti Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Dan telah diriwayatkan juga, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berpuasa Asyura saat masih di Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpesta pada hari itu. Lalu beliau bertanya kepada mereka tentang sebabnya. Mereka menjawab sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas. Lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan agar menyelisihi mereka supaya tidak menjadikannya sebagai hari besar sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Abu Musa. Dia berkata, “Adalah hari ‘Asyura dijadikan oleh orang Yahudi sebagai hari besar (hari raya).” Dalam riwayat Muslim, “Adalah hari ‘Asyura diagungkan oleh orang Yahudi dan dijadikan sebagai hari besar (hari raya).” Dalam redaksi lain dalam riwayat Muslim, “Adalah penduduk Khaibar (Yahudi)  menjadikannya sebagai hari besar (hari raya). Mereka memakaikan perhiasan dan pakaian indah kepada kaum wanitanya.” Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Maka berpuasalah kalian padanya.” (HR. al-Bukahri)
Secara zahir, perintah berpuasa pada hari ‘Asyura untuk menyelisihi orang Yahudi sehingga hari yang mereka rayakan untuk bersenang-senang kita diperintahkan untuk berpuasa padanya. Karena pada hari raya tidak boleh berpuasa.” (Ringkasan dari keterangan Ibnul Hajar rahimahullaah dalam Fath al-Baari Syarah Shahih al-Bukhari)
Secara zahir, perintah berpuasa pada hari ‘Asyura untuk menyelisihi orang Yahudi sehingga hari yang mereka rayakan untuk bersenang-senang kita diperintahkan untuk berpuasa padanya.
Keutamaan Hari ‘Asyura
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam serius berpuasa sebagaimana berpuasa pada hari yang dimuliakannya atas hari selainnya kecuali hari ini, yakni hari ‘Asyura. Dan juga pada bulan ini, yakni bulan Ramadlan.” (HR. al-Bukahri no. 1867) semangat beliau tersebut dengan menyengaja puasa untuk mendapatkan pahalanya dan sangat-sangat menganjurkannya.
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Asyura, sungguh saya berharap kepada Allah supaya menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no. 1976) dan ini merupakan karunia Allah untuk kita dengan menjadikan berpuasa satu hari untuk menghapus dosa setahun penuh, dan sungguh Allah adalah pemilik karunia yang besar.
Kapankah Hari ‘Asyura Itu?
Menurut penjelasan Imam al-Nawawi rahimahullaah, ‘Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Sedangkan tasu’a adalah hari kesembilannya. Demikianlah pendapat jumhur ulama dan yang nampak dari zahir hadits berdasarkan kemutlakan lafaznya dan yang sudah ma’ruf menurut ahli bahasa. (Disarikan dari al-Majmu’)
Ibnu Qudamah berkata, ‘Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Ini merupakan pendapat Sa’id bun Musayyib dan al-Hasan al-Bashri yang sesuai dengan yang diriwayat dari Ibnu ‘Abbas, “Rasullah shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, hari kesepuluh dari bulan Muharram.” (HR. al-Tirmidzi, beliau menyatakan hadits tersebut hasan shahih)
Disunnahkah berpuasa Tasu’a dan ‘Asyura
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sudah wafat.” HR. Muslim, no. 1916)
Berkata Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya, “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara  keseluruhan, karena Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”
Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara  keseluruhan, karena Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.
Dari sini, maka puasa ‘Asyura memiliki beberapa tingkatan: Paling rendah, berpuasa pada hari itu saja (hari kesepuluh saja). Di atasnya, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Terakhir, memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini dan itulah yang terbaik dan terbagus. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
  • Disarikan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid "Fadhlu syahrillaah al-Muharram wa Shiyam 'Asyura" dan diterjemahkan oleh Badrul Tamam, Tim Redaksi voa-islam.com.
  • http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2010/12/09/12213/menilik-keutamaan-bulan-muharram-dan-puasa-asyura/

Rabu, 23 November 2011

Ancaman Serius Umat Kristen Di Indonesia

Wed Jan 16, 2008 7:43 am
Ancaman Serius Umat Kristen Di Indonesia


LP3ES mengeluarkan buku mengnai Sensus Etnis dan Agama di Indonesia.
Tahun perbandingan yang dipakai adalah tahun perbandingan tahun 1971 dan
2000. Yang akan kami soroti adalah disini Sensus Agama.

Berdasarkan sensus tersebut, maka % agama Kristiani meningkat dari
7,39% menjadi 8,92%. % Agama Islam juga meningkat dari 87,51% menjadi
88,22%. Sebaliknya agama Budha dan Konghucu mengalami penurunan drastis.
Pertumbuhan agama Kristiani di Indonesia meningkat 2,48% paling tinggi bila
dibandingkan dengan pertumbuhan agama lainnya.

Sekilas tampak baik-baik saja. Tetapi jika dicermati lebih lanjut,
hasil sensus tersebut memperlihatkan ancaman strategis terhadap umat
Kristiani. Lebih-lebih jika kita menyimak juga hasil sensus tahun 1985 yang
dalam buku tersebut tidak diteliti.

Ancaman tersebut nampak dari penetrasi agama Islam ke daerah-daerah
dan kantong umat Kristiani. Ini tampak dari mengecilnya % umat Kristiani
dan meningkatnya % umat Islam di propinsi-propinsi yang mempunyai
kantong-kantong umat Kristiani cukup besar:

1. Di Papua, % umat Islam meningkat sehingga menjadi 24%, bahkan di
Jayapura % umat Islam sudah mencapai 46%.
2. Di Maluku, % umat Islam meningkat dari 47% menjadi 60%. Bahkan
dengan adanya pemisahan Maluku Utara (yang 85% Muslim), % umat Islam di
Maluku (tidak termasuk Maluku Utara) hampir menyamai umat Kristiani. Dengan
trend seperti itu dalam waktu 30 tahun ke depan, di Maluku umat Kristiani
akan menjadi minoritas seperti di Lebanon.
3. Di Sumatera Utara, % umat Islam meningkat dari 60% menjadi 65%,
umat Kristen sudah mulai menjadi minoritas.
4. Di Kalimantan Barat, % umat Islam yang semula 42% menjadi 57%.
5. Di Sulawesi Tengah, % umat Kristiani turun dari 24% menjadi 17%
6. Di Sulawesi Utara, umat Islam yang semula sedikit lebih kecil
menjadi lebih besar dari umat Kristiani. Dengan adanya pemisahan Gorontalo,
umat Kristen memang masih mayoritas dengan 69%.
7. Di Nusa Tenggara Timur % umat Kristiani turun dari 88% menjadi
87%.

Kita melihat bahwa propinsi dimana umat Kristiani menjadi mayoritas
kini hanya ada 3 yaitu Papua yang mengalami Islamisasi secara drastis,
Sulawesi Utara yang mungkin akan cukup bertahan dalam jangka waktu relatif
lama, dan Nusa Tenggara Timur satu-satunya propinsi dimana umat Kristiani
masih cukup mempertahankan posisinya. Sulawesi Utara sebagian besar
Protestan, NTT kebanyakan Katolik, Papua mayoritas Protestan di sebelah
utara dan Katolik di sebelah selatan.

% umat Kristen meningkat di propinsi lainnya. Namun peningkatan
tersebut walaupun secara kuantitatif cukup besar namun secara substansial
tidak berarti karena dari sudut % umat Kristiani jarang yang mencapai 10%.

Apa yang menyebabkan terjadinya peristiwa di atas:
1. Migrasi umat Kristiani dari daerah Kristen ke wilayah Diaspora.
Sebagai contoh banyak orang Batak pergi ke daerah Sumatera lainnya dan pulau
Jawa.
2. Sebaliknya umat Islam transmigrasi dari wilayah Islam ke wilayah
bukan Islam. Hal ini bukan saja ke wilayah Kristen, tapi juga ke Propinsi
Bali yang notabene Hindu, disana umat Islam meningkat dari 5% menjadi 10%.
Suku yang migrasi antara lain suku Jawa dan Makassar/Bugis. Mereka tetap
mempertahankan Islamnya dan tidak ada indikasi yang membuktikan bahwa mereka
berpindah menjadi Kristen dalam jumlah besar.
3. Jika kita melihat Sensus 1985 maka migrasi tersebut lebih pesat
lagi terjadi setelah tahun 1990 saat Soeharto merangkul ICMI. Di Papua
misalnya menurut Sensus 1985, umat Kristen masih 88% tapi kini tinggal 75%.
Hal ini menunjukkan bahwa ada program Islamisasi Indonesia yang terencana
dan terkoordinasi.
4. Keberhasilan penginjilan terutama terjadi pada etnis Tionghoa yang
semula beragama Budha atau Konghucu.
5. Dari unsur strategi, tampak bahwa strategi umat Protestan kurang
begitu canggih. Umat Katolik lebih mampu mempertahankan diri dalam
membendung Islamisasi.

Trend dan bahaya apa yang akan terjadi di masa yad?

1. % umat Kristiani masih akan meningkat sampai mencapai 10% dari
penurunan % agama Budha dan Konghucu, tetapi sesudah itu akan mulai
slowdown. Usaha penginjilan terhadap umat islam akan mendapat tantangan
keras dan bukan tidak mungkin umat islam fundamentalis akan bergerak
menghambat umat Kristiani.
2. Kantong-kantong Umat Kristen di Indonesia semakin sedikit. Umat
Kristen menjadi umat diaspora dengan % yang kecil dan posisi yang rentan.
Situasi ini akan menyerupai umat Kristen Nestorian (yang dijuluki Protestan
Timur) yang berdiaspora di awal millenium ke 2 di seluruh Irak, Iran, dan
Asia Tengah, namun saat ini hampir tidak tersisa terutama setelah penumpasan
sistematis oleh Timurlan (baca Anne Ruck dalam bukunya Gereja di Asia).

Ancaman Strategis ini tidak akan dirasakan seketika. Ada masa-masa
pertumbuhan dan kemunduran. Namun trend jangka panjangnya akan memburuk.
Memburuknya trend secara perlahan-lahan akan membuat umat Kristiani
terperangkap, mirip dengan gejala "the Frog in the Kettle". Mungkin
generasi kita tidak akan merasakannya, namun anak-cucu kita tidak mustahil
akan merasakan tekanan yang berarti. Tekanan tersebut akan semakin besar,
sehingga sedikit demi sedikit umat Kristiani akan semakin berkurang.
Pengurangan tersebut bisa diakibatkan oleh % pertumbuhan yang lebih kecil
dibandingkan orang Islam, oleh konversi karena tekanan sosial ekonimi dan
politis, dan oleh migrasi umat Kristiani yang lebih mampu secara ekonomis
(sebagaimana yang dilakukan umat Kristen Irak atau Lebanon). Migrasi
tersebut akan semakin menyudutkan umat Kristiani yang tertinggal, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif karena jumlah
mereka akan berkurang, dan secara kualitatif kar ena mereka akan dinilai
tidak patriotik dan antek Barat.

Semoga Tuhan tidak membiarkan ini terjadi, dan banyak umat Kristiani
yang dilimpahi kebijaksanaan. Bagaimanapun kita sudah diingatkan untuk
cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Juga adalah lebih baik bagi
para pendeta untuk berhenti gontok-gontokan dan rebut merebut umat tetangga,
sebab masa seperti itu seharusnya sudah lama berlalu, tetapi kini saatnya
untuk menyatukan diri dan merapatkan barisan untuk menghadapi ancaman
strategis yang berbahaya di masa yang akan datang.

http://www.freelists.org/archives/mahas ... 00002.html

Minggu, 20 November 2011

Nasihat Memilih Pasangan Hidup

Nasihat Memilih Pasangan Hidup

15/11/2011 | 18 Zulhijjah 1432 H | Hits: 6.592
Oleh: Ario Muhammad


- Bismillah…
Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,
“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,
“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”
Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”
“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”
Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.
Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?
Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.
Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :
“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”
Allahu’alam Bishawab
—
Taipei, 21 Juni 2011
Ditulis beberapa pekan menjelang pernikahan saya

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16075/nasihat-memilih-pasangan-hidup/#ixzz1eGIDdwwj

Sabtu, 19 November 2011

Katarak

Katarak


seorang ulama besar d bangbayang kh.zaenudin mupti menderita 'katarak' medis memponis hrus d operasi,namun hasil penelitian mengatakan beliau tdk bs d operasi ,kr sel2 telah mati ahiry kami(sbg murd beliau) menawarkan prdak halalan toybn alhmdullah 2 bln brturut2 mengkmsumsi gamalip,grenpalapa,spirulina trnyata luar biasa medis di buat kaget dgn di temukanya sel2 mati hidup kmbli/regenerasi sel.dokter pun memprbolehkny di oprasi kr ad titik terang.

Pengirim :

Zaenal Arifin, PJS.Nasrudin

Jumat, 18 November 2011

Santunan Anak Yatim

Santunan Anak Yatim

Posted by Awmit On Kamis, 25 Agustus 2011 0 komentar
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Banyak cara untuk meraih keberkahan dan rahmat di bulan Ramadhan ini, salah satunya adalah memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

HPA melalui PT. Al Wahida Marketing International yang merupakan sebuah perusahaan bisnis Multi Level yang berdasarkan pada syariah Islam tidak melewatkan memontum bulan Ramadhan kali ini dengan menyantuni kurang lebih 56 orang anak yatim pada hari Rabu, 24 Agustus 2011.

"Sudah berjalan dua tahun HPA selalu mengadakan acara santunan terhadap anak yatim. HPA, bukan hanya saat Ramadhan saja memberikan santunannya, tetapi juga memberikan beasiswa kepada beberapa orang anak yatim yang memjadi tanggungan AWMIT. Kedepan Insya Allah, kami berusaha untuk terus membiayai mereka hingga mereka menuju Perguruan tinggi. Untuk itu kami mohon do'a semua agar HPA dan AWMIT terus berkembang dan berjaya", itulah sambutan yang disampaikan oleh bpk. Yulyandi Suwandi selaku Direktur PT. Al Wahida Marketing International dalam acara santunan tersebut.

Selain santunan, acara yang dilaksanakan di kantor pusat PT. AWMIT ini juga melaksanakan buka puasa bersama dengan seluruh karyawan yang berada di wilayah Jabodetabek serta dihadiri oleh beberapa perwakilan PJS HPA Indonesia.

Semoga kejayaan terus bersama HPA dan AWMIT sehingga dapat terus berbagi bersama dengan anak yatim dan kaum dhuafa...
Alluhu akbar...

Info Pendaftaran terbaru

Kepada seluruh cabang dan distributor HPA di beritahukan bahwa untuk meningkatkan pendaftaran keanggotaan, maka pendaftaran Anggota Baru kini di berlakukan :

Rp. 60.000,- (Kartu + Kit Niaga)
Rp. 25.000,- (Kartu + Buku Panduan)
Rp. 15.000,- (Kartu)*

Catatan : untuk pendaftaran yang Rp. 15.000,- hanya berlaku selama buku panduan belum di cetak)

GPGL (Green Gamat)


Green Gamat merupakan herba yang diformulasikan dengan prinsip penyingkiran toxin (detoks) dan pembasmian mikroorganisme parasit dipadu dengan penguatan unsur tubuh (regenerasi sel) . Dengan cara kerja demikian herba ini 13 kali lebih efektif dari herba tunggal dalam menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit.

Khasiat umum

menurunkan panas
mengobati panas dalam
Detoks/pengeluaran racun
penguatan sistem imum
Mengatasi virus, bakteri, jamur atau parasit lain
Baik untuk segala penyakit jantung
Menurunkan LDL (kolesterol)
menstabilkan tekanan darah
menstabilkan gula darah (diabet)
Regenerasi sel
pertumbuhan tulang dan mencegah osteoporosis
Anti rematik dan radang sendi
Mengobat asam urat
Untuk kecerdasan anak dan menghambat kepikunan
Kesuburan
Vitalitas
Kecantikan
Menghaluskan kulit
menjaga tubuh tetap langsing
awet muda
Mencegah anemia
Mengobati kanker darah (leukimia) dan Thalasemia
anti kanker dan tumor
Ramuan selepas bersalin
Memperbanyak ASI
Mempercepat penyembuhan luka
Dan lain-lain

Harga Paket Rp. 180.000,-
pemesanan : Bayu Samporna (085733251833)

Kamis, 17 November 2011

Lounching Radix Goat Milk...

RADIX GOAT MILK 75/60/10

Manfaat SUSU KAMBING Dr.Zaidul Akbar, MM ____________ Launching RADIX GOAT MILK (20/11/11)

Diantara beberapa jenis susu, susu kambing merupakan salah satu jenis susu yang paling banyak manfaatnya bagi kesehatan manusia. Kelebihan susu kambing dibandingkan dengan susu dari ternak lainnya adalah :

(1) Mempunyai sifat antiseptik alami dan bisa membantu menekan pembiakan bakteri dalam tubuh. Hal ini di sebabkan adanya Flourin yang kadarnya 10-100 kali lebih besar dari pada susu sapi.

(2) Bersifat basa (Alkaline Food) sehingga aman bagi tubuh dan cocok untuk mereka yang mengalami gangguan perut dan pencernaan . Dalam kondisi lambung bersuasana asam, susu kambing bisa menetralkannya.

(3) Proteinnya lembut dan efek laktasenya ringan, sehingga tidak menyebabkan diare.

(4) Lemaknya mudah dicerna karena mempunyai tekstur yang lembut dan halus lebih kecil dibandingkan dengan butiran lemak susu sapi atau susu lainya. Dan juga bersifat homogen alami. Hal ini mempermudah untuk di cerna dan diserap oleh tubuh sehingga menekan timbulnya reaksi-reaksi alergi dan dapat diminum oleh bayi diatas enam bulan, manula, dan baik bagi penderita radang usus.

(5) Dengan adanya kandungan Sodium (Na), Fluorin (F), Kalsium (C), dan Fosfor (P) sebagai elemen kimia yang dominan serta kandungan nutrisi lainnya, maka susu kambing berkhasiat : (a) Menyembuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit, saluran nafas dan pencernaan, (b) Menyembuhkan bermacam-macam penyakit paru-paru, seperti Asma, TBC, serta infeksi akut lainnya pada paru-paru. (c) Menyembuhkan beberapa kelainan ginjal,seperti Nepbrotic Syndrom infeksi-infeksi ginjal serta asam urat tinggi. (d) Menambah vitalitas dan daya tahan tubuh

(6) Berdasarkan beberapa penelitian di Amerika, susu kambing terbukti mempunyai efek anti kanker.

(7) Kandungan gizi dalam susu kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu menjaga keseimbangan metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, serta membantu pembentukan sel-sel darah dan jaringan tubuh. Disamping itu, kandungan berbagai mineral dalam susu kambing memperlambat osteoporosis.

==============================

PERBANDINGAN KOMPOSISI Susu Kambing - Sapi - ASI

Air 83 –87,5 87,2 88,3 Hidrat Arang 4,6 4,7 6,9 Energi KCL 67 66 69,1 Protein 3,3 –4,9 3,3 1 Lemak 4,0 –7,3 3,7 4,4 Ca (mg) 129 117 33 P (mg) 106 151 14 Fe (mg) 0,05 0,05 0,05 Vit. A (mg) 185 138 240 Thiamin (mg) 0,04 0,03 0,01 Rhiboflamin 0,14 0,17 0,04 Niacin (mg) 0,3 0,08 0,2 Vit. B-12 0,07 0,36 0,84

Ketika Kecewa Melanda

Pinginnya bantu kawan yang terkena hernia sudah besar, sudah dikasih herbalnya yaitu Gamalife dan Green Palapa tinggal diminum istiqomah herbalnya bayarnya kalau sudah sembuh.... tiap ketemu saya tanya gmna sdah dimnum dan dah ada perkembangan... jawabnya selalu iya sudah sambil senyum-senyum...
tentu sebagai kawan sangat senang dengan jawaban itu...
hingga suatu siang ada yang menanyakan, apa aku ketinggalan herbal, ya aku jawab insyallah gak ada. tapi aku penasaran apa bener itu herbalku, setelah aku cek qsangat kecewa sekali ternyata herbalnya ditelantarkan begitu saja tanpa diminum sebutirpun... Masyallah
Aku tertipu dengan, jawaban manis kawanku tersebut, akhirnya aku bawa pulang kembali herbalnya, dan Subhanallah memang Allah itu Maha Adil, belum sempat aku simpan langsung ada pesanan Gamalife dan Green Palapa, Alhamdulillah langsung dapet modalnya..... Bismillah semoga tetap istiqomah membantu meski sempat terkecewakan.....

Rabu, 16 November 2011

Kata Mereka, tentang HPA...!!!

Kata Mereka, tentang HPA...!!!

Bisnis Dunia Ahirat (17 Mei 2007)
Yth, saudara-2 seiman, seagama,...... Bisnis kadang melupakan kaidah halal,haram tetapi jika bergabung disini dijamain halal,berkah dunia ahirat Dan disisini juga kita dapat bersilaturahmi atar sesama umat islam, kapan lagi segera gabung beritahu saudara,tetanga, teman2 sekalian. wasalm, H M Anda

:) H Mochamad Anda h-manda@hotmail.com
Kerinduan Kami akan hadirnya buah hati terkabul berkat Teraphi Herba HPA (02 Februari 2007)
Alhamdulillah kerinduan kami selama hampir sebelas tahun menantikan kehadiran seorang anak kini terobati. Subhanalloh, Allah Maha Mendengar getaran kalbu setiap hambanya yang memohon kepadaNya. “Robbi hablii min ladunka jurriiatan thoyyibah, innaka sammi’u du’a”. Alloh telah mengabulkan doa kami, setelah kami mengkonsumsi produk-produk HPA yang kami lakukan hampir 5 bulan dengan modal keyakinan dan kesabaran. Berawal ketika saya selesai mengikuti PMK 1 di Balikpapan mulai Mei 2004. pada PMK itulah saya banyak mendapatkan informasi yang sangat berharga tentang kesehatan dan pengobatan. Sejak saat itu saya mulai melakukan program detok (konsumsi : malac, HTA, teh asiatica dan Kopi radix) untuk memulihkan kondisi kesehatan saya yang terus memburuk, gejalanya kepala sering pusing/migran disertai mual dan muntah-muntah, sangat mudah terserang flu dan batuk, setiap bulannya pasti timbul sariawan dan cepat lelah. Alhamdulillah saya bersyukur bisa bertemu dengan Tuan H. Ismail bin Ahmad di Intibah pada 23 Mei 2004 di Aula Telkom Balikpapan. Saya konsultasikan masalah saya dan beliau menganjurkan mengkonsumsi Omega 3 Plus, Radix dan Habba Sauda. Setelah kondisi kesehatan membaik dengan program detok maka saya mulai mengkonsumsi herba-herba tersebut ditambah dengan spirulina. Sedangkan istri mengkomsumsi HTA, paramaria dan herba senggugut. Sekitar bulan Juli 2004 isteri mengalami DOC, yaitu timbul gatal-gatal diseluruh badan. Setelah mengalami DOC, haid isteri saya tidak biasanya. Darah haid yang keluar agak beku, menggumpal dan deras, sedang konsumsi herba terus saja dilakukan. Dibulan Agustus 2004, adalah hari-hari yang sangat membahagiakan dan juga mengkhawatirkan, isteri saya positif. Bahagia bahwa usaha kami selama ini menunjukan keberhasilan dan khawatir bahwa dalam pikiran saya apakah ini bisa bertahan sampai sembilan bulan. Dari kejadian ini saya coba renungkan. Mengapa setelah berusaha dan berdoa hampir sepuluh tahun, baru menemukan herba HPA, Alloh SWT berkenan mengabulkan doa kami? kesimpulan saya bahwa ini bukan suatu yang kebetulan, ini semua rencana Allah yang ridho dengan apa yang kami upayakan karena produk HPA sesuai dengan aturan-aturan serta ketentuan Alloh baik cara maupun bahan yang digunakan sehingga sesuai atau tidakbertentangan dengan doa kami yang memohon “jurriiatan thoyyibah” kepadaNya.
Karena tidaklah mungkin mengharapkan sesuatu yang baik sedang usaha yang dilakukan adalah dengan suatu upaya yang tidak baik bahkan haram

:) Ahmad Yani Safari

Alhamdulillah Ayahku Sehat kembali (02 Februari 2007)
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat AllahSWT, kemudian sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Allah-lah adalah segala sumber kesembuhan, namun kita wajib berusaha sesuai dengan kaidahnya.Ayah saya bernama bapak Sumarja dan berusia 83 tahun, sudah lansia tapi kelihatannya semangat tetap besar. Usia ayah yang lansia itu merupakan repurtasi tersendiri, karena menurut World Health Organitation ( WHO ) hidup manusia rata-rata berkisar 70 tahun, sedangkan Nabi kita Muhammad SAW saja wafat pada usia 63 tahun. Itu semua dapat dijadikan tolak ukur kemampuan hidup rata-rata manusia pada jaman sekarang.Ayah saya menurut dokter menderita penyakit Osteoporosis ( Pengoroposan tulang ) dan gangguan prostat. Kalau bergerak sedikit sudah terasa sakitnya, apalagi saat akan buang air besar atau buang air kecil sangatlah tersiksa sekali atas anjuran dokter, ayah saya harus menjalani operasi prostat, soalnya kalau BAK (buang air kecil) sulit sekali dan sakit.Tapi menurut analisa saya berdasarkan pengetahuan setelah mengikuti intibah HPA, bahwa saya lebih cenderung kalau ayah menderita asam urat yang tinggi ( Gout ) dan kelenjar prostat yang membesar. Untuk itu saya beri saja Ardisia. Alhamdullilah belum habis sebotol ternyata ayah dapat bergerak ( melakukan aktifitas ) sendiri tanpa merasa kesakitan lagi. Bahkan dapat duduk sendiri dan ke kamar kecil tanpa bantuan orang lain. Padahal sebelumnya seperti tidak ada harapan hidup lagi dan tidak mampu bergerak tanpa bantuan orang lain. Anak cucu telah siap menghadapi kemungkinan terburuk.Untuk mengatasi prostat, atas anjuran up-line saya bapak Kiran, saya berikan teh Herba yang diminum 3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore. Alhamdulillah, atas ridho Allah SWT, prostatnya sekarang tidak bermasalah lagi, meski tanpa operasi , sehingga saat buang air kecil tidak lagi tersendat-sendat. Para tetangga berkomentar bahwa ayah saya hidup kembali. Sekarang ayah telah sehat wal’afiat, bahkan sudah dapat ke Mesjid yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari rumah. Saya berasumsi ,bahwa produk HPA memang benar-benar ampuh,ilmiah, alamiah, islami dan tentu saja itu semua atas ridho Allah SWT.Semoga HPA tetap jaya dan lestari kebenarannya.Walhamdulillahi robbil’alamin

:) B. Wiyoto SA Purwokerto Jaten

Omega-3 dan Spirulina (27 Maret 2007)
Pada akhir masa kehamilan,saya mulai konsumsi omega-3,alhamdulillah anak saya lahir dalam kondisi sehat dan sampai umur 1 bulan ini sudah naik beratnya,skitar 6 ons.pasca melahirkan saya mengkonsumsi omega-3,teh herba,spirulina dan paramaria, alhamdulillah kondisi saya cepat pulih, bahkan pada hari ke 23 saya sudah bisa menunaikan sholat,dan saya merasa kondisi saya sangat segar,hampir lupa kalo habis melahirkan..

:) Hikma Hudina www.klikhpa.com/?id=hikma

Ingin sehat secara alami?? (31 Maret 2008)
Radix bukan sekedar secangkir kopi. Sinergi 7 Herba Kopi RADIX Tongkat Ali (Eurycoma Longifolia) mengandung bahan aktif B-Sitosterol yang berfungsi merangsang pengeluaran hormon Endrogen N-Nonacosane. Hormon ini merangsang syaraf NEOCLOVENE yang dapat membangkitkan semangat serta meredakan keletihan. Khasiat Tongkat Ali (Eurycoma Longifolia) Blood circulation tonic (Tonic & Peredaran Darah) Ramuan selepas bersalin Afrodisiak (ransangan seks) Detoxifikasi (Membuang racun dalam tubuh) Anti Hipertensi (Menurunkan darah tinggi) Anti Piretik (Menurunkan panas dalam badan) Mengatasi diare Antidot (anti racun) Demam kuning (Masalah hati) Sakit tulang (Arthritis) Gatal badan (Keracunan) Batuk kering Kencing manis Maag Keputihan Gusi berdarah Penyakit kelamin Antiseptik untuk luka dalam Menghilangkan ketagihan merokok Anda tidak percaya? buktikan sendiri.
:) Efriza
Ibu Nurul Aini (Kepala sekolah KB-TK Mujahidin Surabaya)

Sebelumnya saya juga terbiasa minum herbal, saya memilih HPA karena diproduksi oleh perusahaan muslim dan manfaatnya juga saya rasakan seperti herbal lainnya
Ibu Parmi (Wakasek KB-TK Mujahidin Surabaya)
Anak saya perutnya sakit, mules dan mau muntah-muntah serta berkeringat dingin, setelah disarankan minum Herba Tujuh Angin 2 kapsul, subhanallah setelah 5 menit herbal langsung bereaksi dan keringat keluar semua. Setelah itu anak saya sudah bisa tersenyum dan bermain kembali, terima kasih HPA
Ibu Yuyun (Guru KB-TK Mujahidin Surabaya)
Setelah mengkonsumsi Kopi radix dan Herba Tujuh Angin badan lebih seger dan lebih semangat mengajar anak-anak.

Ibu Namira (Guru KB-TK Mujahidin Surabaya)

Alhamdulillah Saya tiap hari minum Spirulina dan Ekstragreen badan menjadi lebih seger dan aktifitas mengajar menjadi lancar. Ibu saya juga punya keluhan badan sering nyeri sampai kaki dan terjadi pengapuran tulang serta mudah lapar jika tidak diisi badan terasa lemas, Alhamdulillah setelah diterapi herbal Ekstra Green, Radix dan Pelawas meski belum pulih 100% badan terasa lebih baik daripada sebelumnya, terutama makan sekarang sudah teratur dan normal 3 kali sehari.
Ibu Eli Nahari (Guru KB-TK Mujahidin Surabaya)
Ketika malam saya minum Ekstra Green paginya badan terasa seger dan aktifitas mengajar lebih lancar. Pernah tangan saya ketika diangkat terasa sakit seperti kesemutan, setelah disarankan minum Herba Tujuh Angin 2 kapsul setelah 15 menit Alhamdulillah sudah tidak terasa sampai sekarang.
Bayu (Karyawan KB-TK Mujahidin Surabaya)
Subhanallah ketika diajak seorang temen mengikuti Pelatihan Bisnis Cemerlang yang merupakan program pelatihan di HPA selama 2 hari 1 malam saya mendapatkan doorprice Kopi Radix 3, malamnya saya minum setelah paginya BAB saya lancar, sejak itu saya ikut menjadi distributor dan Alhamdulillah rekan-rekan kerja saya kini ikut merasakan manfaatnya, Jaya selalu HPA.

M. Yusuf Amin (Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Saya pertama kali ketemu mas Bayu dan diterangkan tentang HPA saya langsung tertarik dan membeli Spirulina, Subhanallah setelah minum tiap hari badan tambah seger dan kakak saya yang sulit keluar ASInya jadi lancar bahkan sampai kelebihan, sejak itu saya bergabung di HPA dan menjadi Distributor sampai sekarang, bersiaplah bergabung menyusul saya dan Jaya Selalu HPA.

Ana M. Fajaria (Mahasiswi Ubiversitas Muhammadiyah Surabaya)

Saya sudah lama punya keluhan alergi dan sulit BAB, setelah rekan kuliah saya bercerita tentang HPA, saya disarankan membeli Ekstra Green dan Radix Kapsul, Subhanallah alergi saya berangsur hilang dan BAB saya pun jadi lancar. Sejak itu saya ikut bergabung dan menjadi distributor HPA, bangkitkan perekonomian Islam

Ibu Mastiani (Pedagang Sayur Pasar PPI)

Saya batuk hampir 1 minggu tidak kunjung sembuh, setelah disarankan temen anak saya minum Malac, Alhamdulillah setelah 2 hari batuk saya sembuh.

Laila Subianti (Mahasiswi Unesa)


Saya punya keluhan ketika Haid perut saya terasa sakit, setelah minum Paramaria Alhamdulillah sampai sekarang Haid saya lancar, selain itu Maag saya alhamdulillah sembuh setelah minum Gamalife dan Herba Tuju Angin. saya juga ikut bergabung di HPA

Minggu, 13 November 2011

peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.
Akal berasal dari bahasa arab 'aql yang secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Pengertian lain dari akal adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan. Dengan akal, dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya denga lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang esensial hidup ini
Akal juga bisa berarti jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, dan ikhtiar Akal juga mempunyai konotasi negatif sebagai alat untuk melakukan tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan
Akal fikiran tidak hanya digunakan untuk sekedar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang asal-usul, alam dan masa yang akan datang. Kemampuan berfikir mengantarkan pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini
Wahyu
Dalam syariat islam , wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seorang nabi atau rasul dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Prosesnya datangnya wahyu bisa melalui suara, berupa firman dan melalui visi/mimpi Berdasarkan salah satu ayat dalam al-qur'an surat An-Nisa ayat 163

163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
B.     Antara Akal dan Wahyu
Dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar tentang perdebatan tentang mendahulukan akal atau wahyu. Kadang ada yang ekstrim mengatakan kalau membaca Al-Qur’an jangan pakai akal, mungkin menurut mereka yang dimaksud membaca disini adalah cara menafsirkannya, Tapi kadang terpikir oleh saya tapi kalau bukan pakai akal bagaimana menghasilkan suatu ijtihad atau hasil perenungan lainnya. Meskipun hasilnya salah tentulah wajarlah karena hasil pemikiran manusia yang mana tidak selalu sempurna. Bagaimana mungkin ketika anda membaca sesuatu termasuk tulisan saya ini jikalau tanpa akal. Tapi hal ini memang ada beberapa faktor mereka mengatakan seperti itu karena tidak sedikit orang yang sesat karena terlalu mengagung-agungkan akal ini.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Editing by Bayu Radix Sukses| Re-Design by pkspiyungan